Dalam Qur’an Surat Al-Ankabut (29), ayat 10-11 Allah Ta’ala berfirman,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ فَإِذَا أُوذِيَ فِي اللَّهِ جَعَلَ فِتْنَةَ النَّاسِ
كَعَذَابِ اللَّهِ وَلَئِنْ جَاءَ نَصْرٌ مِنْ رَبِّكَ لَيَقُولُنَّ إِنَّا كُنَّا مَعَكُمْ ۚ أَوَلَيْسَ اللَّهُ
بِأَعْلَمَ بِمَا فِي صُدُورِ الْعَالَمِينَ
وَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْمُنَافِقِينَ

“Dan di antara manusia ada orang yang berkata: “Kami beriman kepada Allah”, maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah. Dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata: “Sesungguhnya kami adalah besertamu”. Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia?” [10]. “Dan sesungguhnya Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang beriman: dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang munafik.” [11]

Allah Ta’ala menyebutkan satu golongan manusia dalam ayat tersebut adalah orang yang ragu-ragu, yang beriman dengan lidah tetapi ingkar (kafir) dalam hari dan pikirannya. Menurut riwayat, ayat-ayat ini diturunkan berdasarkan seseorang yang bernama Iyasy Ibnu Abi Rabi’ah di mana pada mulanya ia telah masuk Islam kemudian berhijrah ke Madinah. Tetapi karena ke Islamannya itu ia mengalami berbagai macam siksaan. Karena tidak tahan lagi, ia murtad kembali dan kembali menjadi musyrik.

Yang menyiksanya adalah tokoh kafir Quraisy bernama Abu Jahal dan Al Harits. Keduanya masih pamannya sendiri (adik kandung ibunya). Akhirnya Iyasy tidak berapa alam sesudah itu Islam lagi dan menjadi seorang Islam yang baik.

Ayat ini menerangkan tentang adanya yang mengaku beriman dengan Allah dan mengikrarkan dengan lidah tentang ke Esaan-Nya. Akan tetapi bila ia difitnah yakni disiksa oleh orang musyrik yang tidak merasa senang dengannya, ia menganggap bahwa firnah berupa cobaan clan siksaan dari orang lain itu dianggapnya sama saja denga azab dari Tuhan diakhirat kelak. Kerena itu dari pada mengalami siksaan terus menerus lebik baik ia kembali saja kepada agama berhala (murtad). Sebenarnya kalau ia sungguh-sungguh ia beriman, tentulah ia sabar atas cobaan tersebut dan menenteramkan hatinya dengan keimanan yang bersarang dalam dadanya itu. Namun cobaan tersebut justru memalingkan hatinya dari beriman kepada Allah, sebagaimana azab Allah memalingkan seorang mukmin dari kekafirannya. Ia menyangka siksaan dari manusia tidak dapat dihindarkan, sedangkan azab Allah di akhirat bisa saja dihindari. Dalam ayat lain disebutkan lagi: “Dan di antara manusia ada orang menyembah Allah dengan berada di tepi, hingga jika ia memperoleh kebajikan tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia kebelakang, rugilah ia di dunia dan akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.”

Andaikata pertolongan Allah didatangkannya kepada orang-orang mukmin yang tenang berjuang itu, golongan yang masih ragu-ragu dengan kebenaran Islam pura-pura menjadi sahabat yang baik dan mengatakan: “Kami selalu berada bersamamu sebagai saudara-saudara seagama dan kami akan menolongmu dalam menghadapi musuh”. Cuma apa yang mereka ucapkan itu tidak lain hanyalah sekedar ucapan mulut mereka saja. Sebab mereka telah berdusta dengan apa yang telah mereka dakwakan.

Ada tiga golongan manusia, yakni mukmin, kafir dan munafik. Khusus terhadap orang munafik Allah memperingatkan agar orang-orang mukmin bersikap hati-hati. Diantara ciri kemunafikan itu ialah bila agama Islam memperoleh kemenangan mereka turut bergembira dan merasa ikut memenangkannya. Sebaliknya, kalau Islam mengalami kekalahan dan cobaan dari Allah mereka mengecam dan merendahkan Islam serta berpihak kepada musuh.

Sumber: Risalah Jum’at Edisi 51/XXXVII 26 Dzulhijjah 1439 H