Nasehat Pertama Bagi Penuntut Ilmu

Wasiat Pertama

Mabda’ (landasan) kita adalah ilmu yang benar. Kita takkan bisa menegakkan agama melainkan dengan ilmu yang benar dan amalh shalih. Ilmu tidaklah dapat diperoleh dengan sekedar berangan-angan saja,

العلم لا يأتي بالتمني وما نيل المطالب بالراحة
“Ilmu itu tdk datang dengan impian belaka dan tujuan takkan bisa dicapai dengan berleha-leha.”

العلم يحتاج إلى الجهد “Ilmu itu membutuhkan usaha, upaya dan kesungguhan.”

Ilmu itu adalah kehidupan ruh dan jiwa serta jasmani. Imam Ahmad berkata,
الناس مُحْتَاجُون إلى العِلْم أكثر مِن حاجتهم إلى الطعام والشراب ؛ لأن الطعام والشراب يُحْتَاج إليه في اليوم مرة أو مرتين ، والعِلْم يُحْتَاج إليه بِعَدَد الأنفاس
“Manusia itu lebih membutuhkan kepada ilmu ketimbang makan dan minum. Karena makan dan minum dibutuhkan hanya sekali atau dua kali dalam sehari, sedangkan ilmu dibutuhkan sebanyak nafas.”

Alangkah benarnya ucapan al-Hakami,  لَوْ يَعْلَمُ الْمَرْءُ قَدْرَ العِلْمِ لَمْ يَنَمِ “Sekiranya seseorang itu tahu tingkatan ilmu, niscaya ia takkan tidur.”

Tiga Metode Dalam Menuntut Ilmu

  1. Belajar dari yang paling penting dahulu kemudian yang penting dan yang terpenting adalah aqidah shahihah baru amal shalih yang meliputi fikih ibadah.
  2. Metode belajar dengan cara tadqiq (mendetail) dan tahqiq (meneliti/menelaah benar-benar). Karena itu hendaknya seorang penuntut ilmu itu harus : Mudaqiq  (detail/cermat); Muhaqiq (teliti); Mufashshil (detail); Rusukh (mendalam).
  3. Mudzakaroh (diskusi) dan muroja’ah (mengulang-ulang). Salaf dahulu berkata,
    تذاكروا ، فإن إحياء الحديث مذاكرته “Bermudzakarohlah, karena sesungguhnya hidupnya hadits adalah dengan bermudzakaroh tentangnya.”

Wasiat Kedua

Landasan kedua adalah menegakkan agama baik untuk diri sendiri dan untuk orang lain.
أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ, “Tegakkanlah agama dan janganlah berpecah belah.” Bersatu di atas kebenaran karena manhaj ahlus sunnah wal jama’ah adalah manhaj persatuan sebagaimana namanya “al-jamaah” (persatuan) bukan “al-furqoh” (berpecah belah).

Wasiat Ketiga

Landasan persatuan dan menjauhi perpecahan membutuhkan suluk yaitu Adab, akhlaq dan perangai. Persatuan takkan bisa tercapai tanpa akhlaq yang mulia dan adab yang tinggi, yang meliputi kasih sayang, kelemahlembutan dan empati.

Nasehat Kedua: Empat Tugas Penuntut Ilmu

Realitas kaum muslimin saat ini pada umumnya dan sebagian penuntut ilmu pada khususnya, saling berpecah belah; jahil dengan agama, sibuk dengan hal-hal yang tidak bermanfaat baik untuk dirinya dan orang lain, cenderung melakukan hal-hal yang malah memadharatkan diri dan orang lain.

Realitas tersebut bisa dihilangkan dengan cara kembali (rujuk) kepada Allah, yaitu dengan cara taubat, iman dan amal shalih. Allah Ta’ala berfirman,

إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan beramal shalih; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqon: 70)

Ada 4 cara yang harus dilakukan penuntut ilmu untuk menghadapi realitas ini:

(1). Hendaknya berilmu, yaitu berupaya menuntut ilmu yang bermanfaat. Karena ilmu yang bermanfaat akan menjadikan ucapan dan amalnya benar; akan menjadikan aqidah dan imannya benar; serta menjadikan niat (qashd) nya benar.

Ilmu itu menjadikan seseorang tawadhu, semakin berilmu semakin tawadhu dan terbebas dari ujub, takabbur lagi sombong.

إن الله عز وجل يحب العالم المتواضع، ويبغض العالم الجبار، ومن تواضع لله عز وجل ورثه الله عز وجل الحكمة
“Sesungguhnya Allah mencintai seorang alim yang rendah hati dan membenci orang alim yang angkuh. Barangsiapa yang tawadhu karena Allah, maka Allah anugerahkan hikmah kepadanya.”

Ilmu itu diperoleh dengan usaha bukan dengan angan kosong,

لا يزال المرء عالما مادام في طلب العلم ، فاذا ظن انه قد علم فقد بدا جهله “Seseorang akan senantiasa dikatakan alim selama dia tetap menuntut ilmu. Apabila ia mengira bahwa dirinya telah mengetahui maka semakin tampak ketidaktahuannya”

من ظن انه بدون العمل يصل فهو متمنّ  “Siapa yang mengira bahwa dirinya akan bisa mencapai tanpa amalan, maka ia hanyalah pemimpi (orang yang hanya berangan belaka).

(2). Hendaknya berusaha untuk ijima’ul kalimah (mempersatukan) bukan yang malah merusak dan memporak-porandakan persatuan. Persatuan yang dimaksud adalah persatuan hakiki, yaitu yang dibangun di atas agama dan menegakkan agama (iqomatud din).

شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰ ۖ أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ

“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.” (QS. Asy-Syuro: 13)

Yang dibangun di atas Kitabullah, bukan yang dibangun di atas sentimen partai, organisasi, kebangsaan, dll.

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (QS. Ali Imran: 103)

Allah mendahulukan perintah untuk berpegang dengan tali Allah (bersatu), menunjukkan urgensinya bersatu dan larangan kuat berpecah belah. Yang dibangun di atas cara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan metode sahabat beliau serta para salaf shalih.

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Dan barangsiapa menentang Rasul (Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan akan Kami masukkan dia ke dalam neraka Jahanam, dan itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa: 115)

(3). Hendaknya berusaha untuk bersikap rifq (lemah lembut) dan selalu mengedepankan kelemah-lembutan. Ketika ibunda Aisyah radhiyallahu ‘anhu menaiki unta yang tampak kelelahan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan :

عليكِ بالرفق، إنَّ الرِّفْقَ لا يكونُ في شيءٍ إلا زانَهُ، ولا يُنْزَعُ من شيءٍ إلا شانَهُ

“Lemah-lembutlah engkau wahai Aisyah, sesungguhnya kelemah-lembutan jika terdapat pada sesuatu maka ia akan memperindahnya. Dan jika ia diangkat maka akan memperburuknya.” (HR. Muslim)

Ketika orang Yahudi mengucapkan kepada Nabi, “as-Samu ‘alaika” (semoga kematian atasmu). Maka Nabi menjawab, “wa’alaikum”. Lantas ibunda Aisyah radhiyallahu ‘anhu ‘pun naik pitam dan mengucapkan, “as-Samu alaika wal la’nah wa ghadhabullah” (semoga kematian, laknat dan kemurkaan Allah menimpamu).

Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehati :

مهلاً يا عائشة، عليكِ بالرِّفق، وإيّاكِ والعنفَ والفحش ،إن الله رفيق يحب الرفق في الأمر كله

“Tenanglah Wahai Aisyah. Berlemah-lembutlah! Jauhilah sikap keras dan bengis. Sesungguhnya Allâh itu maha lemah lembut dan menyukai kelemahlembutan dalam segala hal.”

Ketahuilah,  الرفق اساس الخير “Kelemahlembutan itu pondasinya kebaikan.”Diantara bentuk sikap rifq adalah nasehat dan meluruskan kesalahan dengan cara yang baik.

(4). Hendaknya berlaku rahmah (kasih sayang) terhadap sesama muslim. ارحَموا مَن في الأرضِ يَرحَمْكُم مَن في السَّماءِ “Sayangilah yang berada di bumi niscaya tuhan yang berada di langit akan menyayangimu.” من لا يَرحم لا يُرحم “Siapa yang tidak menyayangi takkan disayang.”

Hendaknya saling memandang satu dengan lainnya dengan rahmah (kasih sayang). Ingatlah dunia ini singkat, sedangkan yg tersisa darinya hanya sedikit saja. Sedangkan akhirat itu kekal, dan apa yang ada padanya itu abadi.

Syaikh mengucapkan terima kasih dan pujian kepada gurunda Ust Abu Auf Abdurrahman at-Tamimi dan ust Mubarak Bamu’allim serta Bp Chalid Bawazir yg telah membiayai seluruh pelaksana dauroh. Tidak lupa pula kepada seluruh panitia yg membantu dan peserta yg hadir. Syaikh menasehatkan peserta dauroh untuk tetap semangat belajar meski datang ke lokasi dauroh dari tempat yang berjauhan. Namun semuanya dikumpulkan di atas ikatan keimanan, persaudaraan dan ilmu.

Pesan syaikh dalam penutupnya “Jika bukan karena Allah maka kita semua takkan bisa belajar. Jika bukan karena Allah maka kita semua takkan bisa memiliki ilmu. Jika bukan karena Allah maka kita semua takkan bisa berkumpul.”

Sumber: Syaikh Shalih Sindi; Syaikh Sulaiman Ar-Ruhailis (Group BIS & BMS – Dakwah Untuk Umat)