Terdapat beberapa dalil yang menganjurkan untuk memakai pakaian terbaik ketika hari raya Idul Fitri maupun Idul Adha. Diantara dalilnya, hadist dari Ibnu Umar radhiyallahu’anha, bahwa Umar pernah mengambil jubah dari sutera tebal yang di pasar, lalu dia membawa kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Yaa Rasulullah, belilah jubah ini, anda bisa gunakan untun berdandan ketika id (hari raya) dan ketika menyambut tamu.

Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menolaknya, karena baju itu berbahan sutera.

“Ini adalah pakaian orang kafir yang tidak memilikki  jatah di akhirat” (HR. Bukhari No. 948 dan Muslim No. 2068)

Dari sini diketahui bahwa berdandan ketika id adalah tradisi yang sudah menjadi kebiasaan mereka dan itu tidak diingkari oleh Rasulullah. Sehingga disimpulkan bahwa tradisi itu tetap berlaku. (Hasyiyah as-Sindi, 3/181)

Apakah Kebiasaan Ini Bisa Disebut Sunnah?

Al-Hafidz Ibnu Hajar menyebutkan, Ibnu Abid Dunya dan al-Baihaqi meriwayatkan dengan sanad yang shahih sampai Ibnu Umar, bahwa beliau menggunakan pakaian terbaik ketika hari raya. (Fathul Bari 2/439)

Ini menunjukkan bahwa berhias ketika hari raya termasuk sunnah orang sholeh di masa silam. Imam Ibnu Utsaimin mengatakan, “Dianjurkan bagi lelaki untuk berhias ketika id dan memakain pakaian yang terbaik. (Majmu’ Fatawa Ibn Utsaimin, 13/2461)

Apakah Harus Berhutang Jika Tidak Memilikki Uang Untuk Membeli Pakaian Baru?

Bedakan antara berhias dengan memakai pakaian baru. Kesimpulan dari keterangan di atas adalah berhias ketika lebaran. Dengan menggunakan pakaian yang paling bagus. Tanpa ada keterangan, apakah harus berpakaian baru atau pakaian lama. Meskipun dengan pakaian yang baru, umumnya lebih bagus.

Sehingga, jika anda tidak memilikki uang untuk membeli pakaian baru, tidak perlu dipaksakan untuk utang. Apalagi utang yang didalamnya ada akad riba. Selama anda memilikki pakaian yang bagus, silahkan dirawat dengan baik dan jadikan itu sebagai pakaian anda ketika lebaran.

Allahu a’alam