Musahabah Hijrah

Sayang, hijrah lajir ini justru belum terealisasi, bahkan diabaikan begitu saja. Umat sudah merasa puas dengan perbaikan pribadi dan urusan ibadah mahdhah semata. Belum ada ikhtiar keras untuk menyelamatkan agama dari fitnah. Padahal berbagai tuduhan sudah dilontarkan pada agama ini dan orang-orang yang berusaha menegakkan ketaatan kepada-Nya. Tudingan radikalisme, anti kebhinekaan, pemecah persatuan negeri, dll terus digaungkan pada agama. Bahkan berbagai tindakan persekusi terus dilakukan kepada para mubalig dan ulama hanya kerena mereka ingin menyelamatkan negeri dengan petunjuk agama Allah Ta’ala.

Semangat penegakan syariah Islam dan ajaran Khilafah Islam justru dianggap sebagai ajaran yang akan merusak negeri. Padahal syariah dan Khilafah adalah bagian integral dari Islam dan telah disepakati sebagai sebuah kewajiban oleh para ulama Ahlus Sunnah.

Sebaliknya, sistem politik demokrasi yang sudah banyak mengebiri ajaran Islam dan tak ada dasar pembahasannya di kalangan ulama Ahlus Sunnah justru dipuja-puja. Seolah-olah demokrasi adalah solusi terbaik bagi bangsa. Padahal dalam demokrasi berbagai penyimpangan kekuasaan, seperti korupsi, semakin menjadi-jadi. Seperti diberitakan dari Malang, dari 45 anggota DPRD Kota Malang ternyata 41-nya adalah tersangka korupsi pembahasan APBN-P Pemkot Malang.

Sistem ekonomi kapitalisme neoliberalisme yang kini diterapkan di Tanah Air juga telah membuat negeri di makin terpuruk. Nilai rupiah terhadap dollar terus anjlok hingga telah menembus Rp 15 ribu per dolar. Melemahnya nilai rupiah membuat utang Pemerintah RI melonjak. Kementerian Keuangan mencatat pembayaran bunga utang pada semester pertama tahun ini melonjak tercatat sebesar Rp 120,61 triliun atau separuh dari pagu tahun ini Rp 238,61 triliun.

Ironinya, di tengah krisis ekonomi yang terus mencekik, Pemerintah justru menyumbang dana untuk acara tahunan IMF dan Bank Dunia yang akan diselenggarakan pada bulan Oktober nanti, di Bali. Menurur menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, Pemerintah menyiapkan anggaran sekitar Rp 1 triliun.

Semangat neoliberalisme yang telah meminggirkan kepentingan rakyat juga tercemin dari kebijakan pemerintah yang malah mengimpor beras, gula dan garam pada saat jumlah produksi dalam negeri tengah berlimpah. Kebijakan ini jelas hanya menguntungkan para importir sekaligus memiskinkan petani dan pengrajin gula dan garam lokal.

Hijrah Untuk Berubah

Inilah kondisi kegelapan yang tengah menyelimuti negeri. Kondisi ini nyaris tak jauh berbeda dengan kondisi saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat berada di Makkah. Keadaan jahiliah melanda setiap aspek kehidupan sampai kemudian Allah Ta’ala memberikan pertolongan  dengan tegaknya Islam di Madinah. Allah Ta’ala mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya petunjuk.

karena itu momentum Tahun Baru Hijrah hendaknya tidak dijadikan rutinitas seremonial belaka, melainkan harus diambil maknanya. Maknanya, perubahan harus dilakukan. Caranya dengan menerapkan syariah Islam secara kaffah sebagai aturan kehidupan pribadi, bermasyarakat dan bernegara, sekaligus meninggalkan aturan hidul jahiliah.

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا
أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ ۗ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ
هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 257)

Sumber: Buletin Dakwah Kaffah Edisi 55 27 Dzulhijjah 1439 H