Berbahagia Di Dalam Keterpurukan Part III

Mereka Yang Mengutamakan Akhirat Daripada Dunia

Golongan ketiga yang bisa bahagia menerima keterpurukan adalah mereka yang lebih mengutamakan akhirat daripada dunia. Karena bagi mereka yang mengutamakan akhirat tahu persis bahwa hidup di dunia itu cuma sementara. Kalau senang pun sifatnya juga cuma sementara. Kalau senang pun sifatnya juga sementara, sebagaiman firman Allah:

يَا قَوْمِ إِنَّمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ الْآخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ

“Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesugguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.” (QS. Al-Mu’min: 39)

Bagi mereka yang memandang hidup dunia itu hanya sementara dan akhirat itu yang kekal selama-lamanya, maka tujuan  hidupnya akhirat, bukan dunia.  Maka kalau terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan atau keterpurukan dalam hidup mereka, dia tidak sedih-sedih amat. Apalagi mengingat kalau dia sabar menghadapi penderitaan itu, maka itu adalah kafarat bagi dosa-dosanya.

Orang yang berfikir seperti ini, mereka akan sampai pada tingkat mencintai penderitaan. Karena mereka yakin di balik penderitaan itu ada penghapusan dosa. Kalau mereka bersabar menghadapi penderitaan itu. Bagi mereka keterpurukan itu biasa.

Bahkan ada diantara mereka yang beranggapan musibah itu anugerah Allah dalam bentuk lain. Karena dengan adanya keterpurukan mereka punya kesempatan untuk sabar dalam menghadapi semua itu. Padahal Allah berjanji dalam Al Quran:

وَكَأَيِّنْ مِنْ نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

“Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali Imran: 146)

Dalam ayat ini Allah katakan bahwa Allah mencintai orang-orang yang sabar. Hanya mereka yang mengutamakan akhiratlah yang bisa sabar dengan ujian Allah. Karena bagi mereka dunia hanya sekedar tempat bersenda gurau. Maka keterpurukan itu bagian dari senda gurau. Sebagaimana firman Allah:

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا

تَعْقِلُونَ

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS. Al-An’am: 32)

Bagi mereka yang memahahi ayat ini, kalu ada masalah di dunia, apapun masalah itu walaupun sampai membawa kepada keterpurukan, bagi mereka itu urusan kecil. Urusan besar itu kalau sesuatu masalah itu mengganggu akhiranya. Bagi mereka akhirat jauh lebih penting dari dunia.

Apapun keterpurukan yang menyangkut urusan dunia akan dia relakan bila hal itu dapat menunjang keberhasilan akhiratnya. Karena baginya akhirat jauh lebih penting daripada dunia. Bagi orang yang seperti ini keterpurukan akan membahagiakan.

Kesimpulannya, keterpurukan akan membahagiakan kalau kita yakin semua yang terjadi itu atas kehendak Allah. Kemudian itu disikapi dengan iman yang hakiki, yang spetakuler. Dan ditunjang dengan pola pikir bahwa akhirat lebih penting daripada dunia.