Berbahagia Di Dalam Keterpurukan Part II

Mereka Yang Memilikki Iman Yang Spetakuler

Golongan kedua yang akan mampu merasakan bahagia dalam situasi keterpurukan adalah mereka yang punya iman spetakuler. Bagaimana pula iman yang spektakuler itu. Pernah suatu kali Nabi Musa bertanya kepada Allah, “Ya Allah, betapa banyakanya nikmat yang Engkau anugerahkan kepada kami. Engkau jadikan aku seorang Nabi. Dan adikku harun, juga Engkau jadikan Nabi. Betapa luar biasanya nikmat yang Engkau anugerahkan kepada kami. Aku ingin bersyukur kepada-Mu. Tolong aku diajari bagaimana cara bersyukur kepada-Mu.”

Kemudian Allah menjawab, “Wahai Musa, kalau kamu ingin bersyukur kepada-Ku, caranya cuma satu. Yaitu, kalian ucapkan Alhamdulillah (ungkapan kebahagiaan) untuk semua kejadian. Apakah kejadian itu kalian sukai atau tidak kalian sukai. Apakah kejadian itu membuat kamu gembira atau membuat kamu sedih. Karena semua kejadian ini dari Aku. Dan semua yang dari Aku itu tidak ada yang sia-sia. Pasti ada hikmah dan kebaikan di balik semua kejadian itu. Pantaslah kita bahagia.”

Ingatlah, hanya orang yang imannya spektakulerlah, yaitu yang imannya kuatlah yang bisa mengucapkan  alhamdulillah untuk semua kejadian. Orang yang memilikki iman yang hakikilah, yang bisa melihat keterpurukan itu dari sisi yang membahagiakan. Karena dalam keterpurukan itu, batinnya dan hatinya sambung dengan Allah. Mereka Tawakkal kepada Allah. Dan Dicintai-Nya.

Ketahuilah, orang yang imannya kuat ini, imannya spetakuler maka hatinya akan dekat dengan Allah. Tingkat kepercayaannya kepada Allah total, tanpa ada sedikitpun keraguan Allah akan mengecewakannya. Dia yakin Allah Maha Pengasih dan Penyanyang.

Sehingga keterpurukan yang dialaminya, menurutnya pasti dalam rangka kasih dan sayang Allah kepadanya. Bagi orang yang seperti ini, hidup itu apapun bentuknya dan bagaiamanapun kejadiannya tetap positif dimata mereka. Mereka sangat yakin Allah itu Maha Baik. Sangat Pengasih dan Penyayang kepada hamba-Nya.

Sehingga semua kejadian itu dan apapun keterpurukan itu, walaupun tidak disukainya dan bahkan membuatnya menderita. Tapi hebatnya kekuatan imannya yang spektakuler itu mengatakan bahwa penderitaan itu salah satu bentuk cinta Allah kepada hamba-Nya.

Sehingga semua kejadian itu dan apapun keterpurukan itu, walaupun tidak disukainya dan bahkan membuatnya menderita. Tapi hebatnya kekuatan imannya yang spektakuler itu mengatakan bahwa penderitaan itu salah satu bentuk cinta Allah kepadanya. Inilah iman yang hakiki, iman yang kuat yang spektakuler. Yang bisa membuat seseorang bahagia dalam keterpurukan.

Baca Selanjutnya Part III …