Hijrah secara bahasa berarti berpindah dari suatu tempat ke tempat lain, dari suatu keadaan ke keadaan lain (Lisan al-‘Arab, V/250; Al-Qamus al-Muhith, 1/637). Menurut Rawas Qal’ah Ji dalam Mu’jam Lughah al-Fuqaha, secara tradisi, hijrah bermakna: keluar atau berpindah dari satu negeri ke negeri yang lain untuk menetap di situ.

Belakangan, kata hijrah di Tanah Air menjadi popular. Kata ini disematkan untuk perubahan pribadi dari kondisi kemaksiatan menuju kondisi islami. Pribadi muslim yang ugal-ugalan, tidak peduli halal dan haram, menjadi individu yang dekat dengan Allah Ta’ala. Dari bisnis yang berlumur riba menuju muamalah yang halal. Dari Muslimah yang tak lepas dari jilbab. Masyarakat sering menamakan hal tersebut sebagai fenomena hijrah.

Dengan mengutip penjelasan sejumlah ulama, pengertian hijrah seperti di atas ada benarnya. Ibnu Hajar al-Asqalani di dalam kitab Fath al-Bari bi Syarh Shahih al-Bukhari, juga al-Alqami yang dikutip di dalam ‘Awn al-Ma’bud, menjelaskan bahwa hijrah itu ada ada dua macam: zhahirah (lahir) dan bathinah (batin). Hijrah batin adalah meninggalkan apa saja yang diperintahkan oleh hawa nafsu keburukan (nafsu al-ammarah bi as-su) dan seruan setan.

Seorang muslim yang bertobat kepada Allah Ta’ala, bersungguh-sungguh menaati segala aturan-Nya dan meninggalkan kemaksiatan pribadi bisa disebut tengah melakukan hijrah. Hal ini sebagaimana penjelasan Rasulullah saat beliau ditanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang berhijrah (muhajir) itu?”” Beliau menjawab: “Dialah orang meninggalkan perkara yang telah Allah larang atas dirinya.” (HR. Ahmad).

Hijrah batin ini, yakni meninggalkan kemaksiatan menuju ketaatan, adalah perkara yang wajib bagi setiap Muslim. Siapa saja yang mengharapkan ridha Allah sudah seharusnya meninggalkan kemungkaran menuju penghambaan kepada-Nya. Meninggalkan muamalah, ribawi, budaya suap-menyuap, menipu, berbisnis barang yang haram semisal minuman keras, membuka aurat, membela LGBT, berbuat zalim terhadap sesama Muslim, mempersekusi dakwah, dll. Lalu  beralih pada perilaku islami. Giat beribadah, mencari rezeki yang halal, menutup aurat, beramar makruf nahi mungkar, dsb. Allah berfirman:

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,” (QS. Ali Imran: 133)

Sumber: Buletin Dakwah Kaffah Edisi 55 27 Dzulhijjah 1439 H