Pelajaran dari kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan anaknya Nabi Ismail ‘alaihissalam yang dapat kita ambil hikmahnya untuk menambah iman kita adalah, mereka berdua orang-orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya, mapu mengendalikan hawa nafsunya,mmampu mengendalikan diri. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam sebenarnya sudah lama sekali mendambakan untuk mempunya seorang anak. Dia berdoa sudah berpuluh tahun, memohon kepada Allah Ta’ala untuk diberi seorang keturunan/anak. Akhirnya pada umur 86 tahun, barulah doanya itu diberi Allah jawabannya, dikabulkan Allah Ta’ala. Dia mendapat seorang anak laki-laki yang diberi nama Ismail.

Maka wajar jika Nabi Ibrahim ‘alaihissalam sangat bahagai sekali doanya dikabulkan Allah. Wajar jika dia sangat sayang kepada Nabi Ismail ‘alaihissalam. Apalagi Nabi Ismail ‘alaihissalam anak yang tampan, baik dan sholeh serta menyenangkan hati kedua orang tuanya, istilahnya qurrota a’yun.

Sewaktu Nabi Ismail ‘alaihissalam lagi masanya senang bermain dan bergurau dengan orang tuanya, tiba-tiba saja Nabi Ibrahim ‘alaihissalam bermimpi yang sangat mengejutkannya. Dalam mimpinya itu, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam mendapat perintah dari Allah untuk menyembelih anaknya, Ismail. Dan mimpi itu datang sampai tiga kali dan bagi para nabi mimpi itu wahyu Allah. Dan din berkewajiban mewujudkannya.

Disini Nabi Ibrahim ‘alaihissalam harus berjuang untuk mengalahkan hawa nafsunya, mengendalikan dirinya. Antara melaksanakan perintah Allah disatu sisi dan menyembelih anak kesayangannya pada sisi yang lain. Dan itu bukan pilihan yang mudah. Hebatnya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, dia berhasil memenangkan pertarungannya yang sulit ini. Dia lebih memilih mencintai Allah, menyayangi Allah daripada menyayangi anak yang sangat dicintainya.

Padahal kita tahu, banyak orang yang sangat sulit dalam mengendalikan dirinya, melawan hawa nafsunya. Bahkan seorang nabi sekalipun. Kita masih ingat bagaimana nabi Adam ‘alaihissalam diceritakan dalam riwayat, sewaktu Allah melarang agar Nabi Adam ‘alaihissalam jangan mendekati sebuah pohon di surga, tapi yang terjadi. Nabi Adam ‘alaihissalam tidak hanya mendekati pohon larangan tersebut, tapi malah memakan buahnya.

Apa yang terjadi dengan perilaku Nabi Adam ‘alaihissalam ini, Allah murka dan mengusir Nabi Adam ‘alaihissalam dari surga. Ingatlah, sewaktu Nabi Adam ‘alaihissalam tidak mampu mengendalikan dirinya, maka yang terjadi salah satu resikonya adalah mendapatkan hukuman dari Allah. Diusir ke dunia, dikeluarkan dari surga. Jadi, mengendalikan diri itu sesuatu yang sangat kita butuhkan dalam hidup ini, kalau tidak ingin dimurkai Allah.

Itu jugalah yang terjadi dengan Nabi Ismail ‘alaihissalam. Kemampuan mengendalikan diri yang dimilikki ayahnya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, menurun kepadanya. Sewaktu diajak ayahnya untuk disembelih, Nabi Ismail ‘alaihissalam tanpa pikir panjang, menerima tawaran ayahnya itu dengan perasaan ikhlas. Bagaimana itu bisa terjadi? Jawabannya hanya satu, yaitu karena Nabi Ismail ‘alaihissalam mampu mengendalikan dirinya, berbeda dengan anak Nabi Adam ‘alaihissalam, Qabil. Dia termasuk yang tidak mampu mengendalikan dirinya. Sehingga dia tega membunuh saudara kandungnya Habil. Hanya karena memperebutkan seorang wanita yang cantik, namanya Iklima. Itulah resika jika kita tidak mampu mengendalikan diri, bisa menyesal seumur hidup.

Dari semua pelajaran yang ditampilkan keluarga Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ini, kita menjadi tahu bahwa kemampuan mengendalikan diri itu sesuatu yang sangat penting dalam hidup kita, kalu ingin bahagia di dunia dan akhirat. Tidak ada kesuksesan didunia, apalagi di akhirat bagi mereka yang tidak mampu mengendalikan dirinya.

Mereka yang sukses di dunia pasti mempu mengendalikan dirinya. Mulai dari bangun pagi, rajin bekerja, disiplin bekerja, rajin juga berhemat atau menabung, rajin juga bersedekah, pekerja keras, ulet, sungguh-sungguh dan tidak pernah menyerah mengejar cita-cita. Dan itu semua hanya bisa dilakukan, kalau orang itu mampu mengendalikan dirinya.

Begitu juga orang yang akan masuk surga, pasti orang yang mampu mengendalikan dirinya. Muali disiplin dalam beribadah, sholat subuh di masjid, rajin membaca al-Qur’an, rajin berzikir, sholat tepat waktu, rajin puasa sunnah, senang berbuat baik dan ketaatan-ketaatan lainnya. Bagi yang tidak bisa mengendalikan diri, bangun pagi semaunya, ibadah malas, tidak taat kepada Allah maka jangan pernah mimpi masuk surga Allah.

Kesimpulan dari kisah diatas adalah jika ingin bahagia dunia dan akhirat, tidak ada pilihan lain kecuali mengendalikan diri kita dari hawa nafsunya yang negatif. Mulai dari mengendalikan niat kita, mengendalikan pikiran kita, mengendalikan perbuatan kita, mengendalikan emosi kita, mengendalikan harta kita, mengendalikan akhlak kita dan selalu mengendalikan ketaatan kita kepada Allah Ta’ala. Insyaallah kalau semuat itu bisa dikendalikan, kelak kita akan bahagia di dunia dan akhirat, ammiinn Yaa Rabb …

Sumber: Risalah Jum’at Edisi 49/XXVII 12 Dzulhijjah 1439 H