Kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam banyak pelajaran yang kita bisa petik untuk kehidupan serta memperkokoh iman dan taqwa kita kepada Allah. Dalam kitab suci Al Qur’an,

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. Ash-Shaffaat: 102-105)

Kisaha Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dengan anaknya Nabi Ismail ‘alaihissalam adalah kisah yang penuh dengan pelajaran yang luar biasa. Pelajaran yang kalau diteladani akan mengantarkan kita menjadi hamba Allah yang sholeh. Lihatlah kepatuhan mereka berdua terhadap apapun perintah Allah. Walaupun diperintah Allah untuk menyembelih anaknya, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tidak ada keberatan sama sekali. Padahal dia sudah 86 tahun menunggu baru dapat anak, Nabi Ismail ‘alaihissalam.

Begitu juga dengan Nabi Ismail ‘alaihissalam, masi muda belia bahkan masih anak-anak tapi tidak ada sedikitpun ketakutannya untuk disembelih bapaknya, setelah ia tahu bahwa itu perintah Allah. Walaupun perintah itu hanya lewat mimpi. Karena bagi para nabi mimpi itu adalah salah satu cara Allah menurunkan perintahNya atau wahyuNya. Dengan ikhlasnya Nabi Ismail ‘alaihissalam berkata, “Wahai bapakku, kalau itu perintah Allah, maka kerjakanlah Insya Allah engkau akan mendapatkan aku, hamba Allah yang sabar”. Inilah bentuk ketaatan dan kepatuhan yang luar biasa kepada Allah. Ketaatan kepada Allah, bukan sesuatu yang mudah dan sederhana untuk mendapatkannya.

Ini adalah rahmat Allah, yang tidak semua orang mampu melakukannya. Hanya orang-orang yang taat kepada Allah saja yang bisa, mendapatkan rahmat Allah itu. Sebagaimana firman Allah dalam kitab suci Al Qur’an,

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat. (QS. Ali Imran: 132)

Sumber: Risalah Jum’at Edisi 49/XXVII 12 Dzulhijjah 1439 H