Amalan akhir seorang manusia itulah yang akan menjadi penentu dan atas amalan itulah seorang manusia dibalas Allah, Az-Zarqani dalam Syarh Al-Muwatha’.

Riwayat hadist Bukhari menyebutkan,

وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.” (HR. Bukhari, No. 6607)

Kisah seorang muadzin dalam at-Tadzkirah fi Umuril Akhirah oleh al-Qurthubi hlm. 43

Menceritakan di Mesir ada seorang muadzin yang selalu mengumandangkan adzan untuk shalat lima waktu dan zaman dahulu mengumandangkan adzan harus ditempat yang tinggi agar terdengar suara adzannya. Di saat adzan berkumandang terlihatlah seorang perempuan cantik yang beragama nasrani.

Suatu hari setelah seorang muadzin tersebut mengumandangkan adzan seperti biasanya, tanpa sengaja muadzin itu melihat kecantikan seorang perempuan nasrani tersebut. Muadzin tersebut sudah terfitnah dengan kecantikan perempuan nasrani tersebut dan bergegas menemui perempuan nasrani tersebut.

Muadzin tersebut menghampiri perempuan tersebut dirumahnya, dan perempuan nasrani tersebut bertanyalah dengan penuh tanda tanya kepada seorang muadzin tersebut.

Ada perlu apa? Apa yang kamu inginkan?

“Aku menginginkanmu.”

“Mengapa?”

“Karena kamu telah menawan akal pikiranku dan mengambil seluruh isi hatiku.”

“Aku tidak akan tertipu dengan rayuanmu.”

“Aku Ingin menikah denganmu.”

“Engkau muslim, sedangkan aku Nasrani, ayahku tidak akan menikahkanku denganmu,” sanggah perempuan nasrani tersebut.

“Kalau begitu aku akan pindah ke agama Nashrani.”

“Jika engkau melakukannya, maka aku akan menikah denganmu “ tegas perempuan itu.

Karena sudah terfitnah dengan kecantikan seorang perempuan nasrani tersebut, akhirnya muadzin tersebut meninggalkan dua kalimat syahadat untuk memeluk agama nasrani kemudian menikahi perempuan nasrani tersebut.

Hanya Allah yang mengetahui kapan seorang manusia akan meninggalkan dunia ini. Akhir cerita muadzin tersebut menikahi perempuan dan tinggal dirumah perempuan nasrani tersebut.

Pada hari yang sama saat pernikahan tersebut, siang harinya muadzin tersebut naik ke atap rumah untuk satu keperluan. Tiba tiba dia terpeleset dan terjatuh dari atap rumah dan akhirnya meninggal dunia, bahkan dia belum sempat menggauli perempuan tersebut padahal sudah mengorbankan hartanya yang paling besar yaitu iman atau agamanya.

Dari kisah diatas kita senatiasa selalu berdoa kepada Allah untuk meminta hidayah-Nya, agar kita terlindung dari fitnah dunia akhirat. Kita bisa mengambil pelajaran dalam hadist berikut ini,

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِىِّ قَالَ نَظَرَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِلَى رَجُلٍ يُقَاتِلُ الْمُشْرِكِينَ ، وَكَانَ مِنْ أَعْظَمِ الْمُسْلِمِينَ غَنَاءً عَنْهُمْ فَقَالَ « مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى هَذَا » . فَتَبِعَهُ رَجُلٌ فَلَمْ يَزَلْ عَلَى ذَلِكَ حَتَّى جُرِحَ ، فَاسْتَعْجَلَ الْمَوْتَ . فَقَالَ بِذُبَابَةِ سَيْفِهِ ، فَوَضَعَهُ بَيْنَ ثَدْيَيْهِ ، فَتَحَامَلَ عَلَيْهِ ، حَتَّى خَرَجَ مِنْ بَيْنِ كَتِفَيْهِ . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « إِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ فِيمَا يَرَى النَّاسُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ ، وَإِنَّهُ لَمِنْ أَهْلِ النَّارِ ، وَيَعْمَلُ فِيمَا يَرَى النَّاسُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ وَهْوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ، وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا »

Sahl bin Sa’ad As-Sa’idi berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat ada yang membunuh orang-orang musyrik dan ia merupakan salah seorang prajurit muslimin yang gagah berani. Namun anehnya beliau malah berujar, “Siapa yang ingin melihat seorang penduduk neraka, silakan lihat orang ini.” Kontan seseorang menguntitnya, dan terus ia kuntit hingga prajurit tadi terluka dan ia sendiri ingin segera mati (tak kuat menahan sakit, pen.). Lalu serta merta, ia ambil ujung pedangnya dan ia letakkan di dadanya, lantas ia hunjamkan hingga menembus di antara kedua lengannya.

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh ada seorang hamba yang menurut pandangan orang banyak mengamalkan amalan penghuni surga, namun berakhir menjadi penghuni neraka. Sebaliknya ada seorang hamba yang menurut pandangan orang melakukan amalan-amalan penduduk neraka, namun berakhir dengan menjadi penghuni surga. Sungguh amalan itu dilihat dari akhirnya.(HR. Bukhari, No. 6493)

Az-Zarqani dalam Syarh Al-Muwatha’ menyatakan bahwa amalan akhir manusia itulah yang jadi penentu dan atas amalan itulah akan dibalas. Siapa yang beramal jelek lalu beralih beramal baik, maka ia dinilai sebagai orang yang bertaubat. Sebaliknya, siapa yang berpindah dari iman menjadi kufur, maka ia dianggap murtad.