Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengisahkan seorang telah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Yaa Rasulullah, sedekah yang bagaimanakah yang paling besar pahalanya?” Rasulullah menjawab, “Bersedekah pada waktu sehat, takut miskin dan sedang berangan-angan menjadi orang yang kaya. Janganlah kamu memperlambatnya sehingga maut tiba, lalu kamu berkata, “Harta untuk si fulan sekian dan untuk si Fulan sekian, padahal harta itu telah menjadi milik si Fulan (ahli waris)”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Itulah yang sudah diamalkan oleh Abu Thalhah dan Ummu Sulaiman yang merelakan sepiring nasi terakhir mereka dihidangkan buat tamunya ketimbang anaknya yang belum makan atau sebagaimana trio sahabat Ikrimah bin Abi Jahal, Harits bin Hisyam dan Suhail bin Umair, yang selalu mendahulukan kepentingan yang lain hingga ajal menghampiri mereka bertiga dalam perang Yamruk sebelum ketiganya sempat meminum air terakhir kalinya.

Itulah yang disebut itsar atau mendahulukan hajar orang lain. Dalam bahasa Ustadz Yusuf Mansur, itulah sedekah yang bunyi atau dalam istilah kerennya sedekah yang signifikan. Yakni yang lebih berpeluang untuk diterima dan diijabah hajat pelaku sedekahnya.

Hukum Itsar seperti diutarakan Imam Ghazali di kitab Ihya ‘Ulum al-Din, berarti kesediaan seseorang untuk mendermakan hartanya dijalan Allah, meski ia sendiri membutuhkannya. Itsar, lanjut Ghazali, merupakan kedermawanan yang paling tinggi, tidak ada kedermawanan di atasnya. Dalam Al Qur’an Allah memuji orang-orang yang memilikki sikap demikian. “Dan mereka mengutakaman (orang-orang muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan dan siapapun yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (QS Al-Hasyr: 9)

Contohnya, Abdullah bin Umar, pernah tertarik pada hamba sahaya asal Romawio bernama Marjannnah. Tapi setelah memerdekakannya ia persilahkan wanita cantik itu menikah dengan pria lain pilihannya. Ketika sedang berada di kota Johfah, Ibnu Umar jatuh sakit. Suatu hari, ia bilang kepada istrinya, ia ingin makan ikan. Istri Ibnu Umar belanja dan masak ikan. Tidak lama, hidangan lezat tersaji di depan Ibnu Umar. Namun belum lagi ia sempat mencicipinya, tiba-tiba seorang pengemis datang, spontan ikan itu diberikannya kepada pengemis.

Sumber: Jejak Daqu Yogyakarta – PPPA Daarul Qur’an, edisi 5, Agustus 2018