Menurut Syaikh Ibnu Utsaini dalam Riyadhush Shalihin, syarah Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin membagi al-itsar menjadi tiga macam. Karena tidak semua mengutamakan orang lain atas diri kita itu menjadikan kebaikan atau bernilai ibadah, justru ada yang bertentangan dnegan ketentuan-ketentuan agama.

Hukum Itsar: Haram

Kepan sifat atau perbuatan yang pada asalnya adalah terpuji in justru dihukumi haram ketika dilakukan. Yakni ketia seorang mengutamakan orang lain atas dirinya dalam perkara-perkara yang diwajibkan Allah atas dirinya. Contoh: seseorang yang belum berwudhu dan hanya memilikki air yang cukup untuk dirinya sendiri, sementara ada orang lain yang juga belum berwudhu dan tidak memilikki air. Dalam hal ini haram baginya memberikan air tersebut untuk saudaranya. Karena kewajibannya orang yang memilikki air saat masuk waktu sholat adalah berwudhu dengan air tersebut, sedangkan saudaranya, maka gugurlah kewajibannya untuk berwudhu dengan air, karena ketidakadaannya dan dalam hal ini ia bertayamum dengan debu sebagai ganti air.

Hukuk Itsar: Makruh dan Mubah

Yakni mengutamakan orang atas dirinya dalam perkara-perkara yang mustajab atau sunnah. Dimana para ulama berselisih pendapat dalam hal ini, sebagian menghukumi makhruh sebagian menghukumi mubah, tetapi meninggalkannya lebih utama kecuali didalamnya ada maslahat. Contoh: seorang yang mempersilahkan orang lain pada tempatnya di shaf yang pertama dalam shalatnya. Maka perbuatan seperti ini dianggap makruh oleh sebagian ahlul ilmi. Alasannya, karena orang tersebut berarti tidak mencintai kebaikan, sedang tidak cinta pada kebaikan adalah perbuatan makruh. Sebagian yang lain mengganggapnya mubah. Tetapi meninggalkannya (al-itsar dalam perkara yang mustajab) adalah lebih utama (aula) kecuali ada maslahatnya. Contoh: seorang orang mempersilahkan bapaknya pada tempatnya di shaf pertama, karena khawatir tersinggung dan lain sebagainya (menimbulkan fitnah), maka dalam hal ini diperbolehkan.

Hukum Itsar: Mubah

Yakni mengutamakan orang lain atas dirinya dalam perkara-perkara yang bukan ibadah dan terkadang hukumnya menjadi mustajab (sangat dianjurkan dan terpuji). Contoh: seorang yang memilikki makanan dan ia dalam keadaan lapar, sementara saat itu ada saudaranya yang juga lapar, maka jika seorang tersebut mengutamakan saudaranya atas dirinya padahal ia juga dalam keadaan yang sama (lapar) tentunya hal ini perbuatan yang sangat terpuji (mahmud), sebagaimana telah disebutkan di atas dalam surat Al-Hasyr ayat 9 bagaimana Allah memuji para sahabat Anshar yang memilikki sifat al-itsar tersebut.

Adapun kisah sedekah bunyi dari Diana Kurniawati kala badai yang membelit rumah tangganya. Keadaan itu hampir membuat ibu dua anak ini patah arang, hingga akhirnya ia harus menjual rumahnya untuk bertahan hidup. Ia hanya bersabar dan sholat untuk mencari solusinya. Rupanya Allah tidak membiarkan Diana larut dalam permasalahannya. Ia dipertemukan oleh Allah dengan Ustadz Yusuf Mansur dan ia merasa senang karena sudah mengetahui latar belakang sang ustadz. “Wah ustadz sedekah nih yang ngisi” ujar Diana dalam acarea pengajian di kantor jasamarga.

Ustadz Yusuf Mansur, “supaya permasalahan dapar segera diatasi, perbaiki ibadah fardlu dulu, lengkapi dengan yang sunnah dan sempurnakanlah dengan sedekah. Bila sedekah kita ingin “bunyi” maka bersedekahlah di kala kita sedang mengalami kesulitan dan kesempitan rezeki”. Pernyataan itu menambah keyakinan Diana untuk bersedekah dan ia menyedekahkan semua uangnya. “Bismillah, Ya Allah Engkau Maha Tahu Segala Kesulitan hamba, maka berikanlah yang terbaik”. Pinta Diana dalam hati ketika bersedekah pagi itu. Sore harinya kakak Diana bersilahturohmi dan menawarkan rumahnya untuk ditinggali dan kakaknya bersedeia menyelesaikan permasalahannya rumah tangganya. “Alhamdulillah Ya Allah, Allah memang segala-galanya, apapun permasalahannya perginya ke Allah saja”. Jawab Diana dengan wajah haru, pengalaman tersebut membuka mata hatinya dan mempertebal keyakinannya akan keajaiban sedekah. Semenjak itu, ia rajin sholat Dhuha dan sedekah telah menjadi kebiasaanya.

Sumber: Jejak Daqu Yogyakarta – PPPA Daarul Qur’an, edisi 5, Agustus 2018