Adapun hijrah zhahirah (batin) yang diterangkan oleh Ibnu Hajar adalah lari menyelamatkan agama dari fitnah (al-firar bi ad-din min al-fitan). Hal ini senada dengan penjelasan al-Jurjani dalam At-Ta’rifat. Menurut al-Jurjani, hijrah adalah meninggalkan negeri yang berada di tengah kaum kafir dan berpindah ke Dar al-Islam.

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Fath al-Bari Syarhu Shahih al-Bukhari menjelaskan, asal dari hijrah adalah meninggalkan dan menjauhi keburukan untuk mencari, mencintai dan mendapatkan kebaikan. Hijrah secara mutlak dalam as-Sunnah ditransformasikan ke makna: meninggalkan negeri syirik (kufur) menuju Dar- al-Islam. Jika demikian maka asal hijrah adalah meninggalkan apa saja yang telah Allah larang berupa kemaksiatan, termasuk di dalamnyta meninggalkan negeri syirik, untuk tinggal di Dar al-Islam.

Darul Islam adalah suatu wilayah (negara) yang menerapkan syariah Islam secara total dalam segala aspek kehidupan dan keamanannya secara penuh berada di tangan kaum Muslim. Sebaliknya, darul kufur adalah wilayah (negara) yang tidak menerapkan syariah Islam dan keamanannya tidak di tangan kaum Muslim, sekalipun mayoritas penduduknya beragama Islam. Definisi hijrah semacam ini diambil dari fakta hijrah Rasulullah sendiri dari Makkah (yang saat itu merupakan darul kufur) ke Madinah (yang kemudian menjadi Darul Islam).

Hijrah lahir inilah yang menjadi peristiwa besar dalam sejarah umat. Pada saat Rasululla dan para sahabat berhjrah ke Madinah, Islam dapat ditegakkan secara kaffah, bahkan menyebar ke seluruh penjuru dunia. Hukum-hukum Islam baru dapat dilaksanakan dengan paripurna setelah hijrah Rasulullah dan kaum Muslim; mulai dari hukum ibadah, sosial, ekonomi hingga pemerintahan.

Madinah menjadi pusat pemerintahan kaum Muslim yang pertama. Di sana Rasulullah dan selanjutnya Khulafa ar-Rasyidin mengatur urusan umat Muslim baik untuk urusan dalam maupun luar negeri. Rasulullah, mengirim delegasi ke sejumlah negeri seperti ke Mesir, Persia dan Romawi untuk mengajak mereka memeluk agama Islam dan tunduk pada kekuasaan beliau. Beliau juga mengirim pasukan ke berbagai medan peperangan, baik yang dipimpin langsung oleh beliau maupun diserahkan pada para sahabat. Berdasarkan riwayat Ibnu Hajar al-Asqalani, jumlah peperangan  yang dipimpin oleh Rasulullah (ghazwah) mencapai 29 kali, sedangkan Ibnu Hisyam dalam kitab Sirahnya menyebutkan 27 kali. Pada masa Khulafa ar-Rasyidin luas kekuasaan kaum Muslim empat kali lebih luas dibandingkan Prancis dan Jerman, meliputi Jazirah Arab, Persia hingga wilayah Syam dan Palestina serta sebagian Afrika. Begitu pentingnya arti hijrah maka penetapan awal kalender Hijrah pun diawali dari peristiwa hijrah tersebut.

Sumber: Buletin Dakwah Kaffah Edisi 55 27 Dzulhijjah 1439 H