Makna Iman

Definisi iman secara etimologi, iman berarti pembenaran hati. Secara terminilogi, iman berarti pembenaran dengan hati, pengakuan dengan lisan dan pengamalan dengan anggota badan. Beginilah pendapat mayoritas ulama. Bahkan, Imam Syafi’i menceritakan bahwa ini adalah ijimak para sahabat, tabi’in dan generasi setelah mereka yang bertemu dengan mereka dalam keadaan beriman.

Penjelasan Definisi Iman

“Pembenaran dengan hati” artinya, menerima seluruh ajaran yang dibawa Rasulullah. “Pengakuan dengan lisan” artinya, mengucap dua kalimat syahadat. Yaitu, bersaksi bahwa tidak ada ilah (yang berhak diibadahi) selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. “Pengalaman dengan anggota badan” artinya, hati mengamalkannya dengan keyakinan dan anggota badan mengamalkannya dengan melaksanakan ibadah.

Dalil Tentang Iman

  1. Firman Allah Ta’ala QS. Al-Muddatstsir: 31

وَمَا جَعَلْنَا أَصْحَابَ النَّارِ إِلَّا مَلَائِكَةً ۙ وَمَا جَعَلْنَا عِدَّتَهُمْ إِلَّا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا لِيَسْتَيْقِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آمَنُوا إِيمَانًا ۙ وَلَا يَرْتَابَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَالْمُؤْمِنُونَ ۙ وَلِيَقُولَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْكَافِرُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلًا ۚ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَا يَعْلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَ ۚ وَمَا هِيَ إِلَّا ذِكْرَىٰ لِلْبَشَرِ

Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat: dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi Al Kitab dan orng-orang mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan): "Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?" Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia.

2. Firman Allah Ta’ala QS. Al-Anfal: 2-4 إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا ۚ لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

(2) Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (3) (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. (4) Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.

3. Hadist yang diriwayatkan oleh Muslim dengan sanadnya, dari Abu Hurairah, ia berkata Rasulullah bersabda. “Iman itu ada 70 atau 60 sekian cabang, yang paling utama adalah ucapan La ilaha illallah, dan yang paling bawah (tingkatannya) ialah menyingkirkan bahaya (batu, duri dan sejenisnya) dari tengah jalan. Dan rasa malu termasuk cabang dari iman” (Shahih Muslim, 1/63. Disebutkan dalam Musnad Iman Ahmad, bahwa Sahl bin Mu’adz meriwayatkan dari bapaknya, dari Rasulullah, beliau bersabda, “Barang siapa yang memberi karena (mengharapkan ridha) Allah, menahan (tidak memberi) karena (mengharapkan ridah) Allah, mencintai karena (mengharap ridha) Allah, membenci karena (mengharap ridha) Allah, dan menikahkan karena (mengharap ridha) Allah, maka berarti imannya telah sempurna.” Lihat, Musnad Imam Ahmad, III/438-440)

4. Hadist yang diriwayatkan oleh Muslim dengan sanadnya, dari Abu Sa’id Al-Khudri, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, “Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaknya ia berusaha mengubahnya dengan tanganya. Bila tidak mampu maka dengan lisannya. Bila tidak mampu maka dengan hatinya. Dan itu adalah (tanda) iman yang paling lemah.” (HR. Muslim, I/69)

Kesimpulan dari Dalil Tersebut Bahwa Iman Dapat Bertambah dan Berkurang

Dalil pertama

Di dalamnya terdapat penetapan bahwa iman kamu mukminim dapat bertambah dan semua itu karena mereka mengakui kebenaran Nabi mereka dan kesesuaian kabar yang beliau bawa dengan yang disebutkan di dalam kitab suci kitab suci agama samawi sebelumnya.

Dalil kedua

Didalamnya terdapat penetapan bahwa dengan mendengar ayat-ayat Allah, iman dapat bertambah. Itu bagi mereka yang Allah sifati, apabila disebut nama Allah, bergetarlah hati mereka lalu mereka bersegera menunaikan semua perintah dan menjauhi semua larangan. Mereka bertawakal hanya kepada Allah Ta’ala. Tidak berharap kepada selain-Nya. Tidak meniatkan (ibadah) kecuali hanya kepada-Nya. Dan, tidak memohon agar kebutuhannya dipenuhi kecuali hanya kepada Allah. Mereka menunaikan amal saleh yang disyariatkan seperti, shalat dan zakat. Merekalah orang-orang yang benar-benar berimana.

Dalil ketiga

Dalam hadits di atas disebutkan bahwa iman memilikki banya cabang. Anak cabang dari cabang-cabang itu juga termasuk cabang dari iman, tentunya dengan perbedaan keutamaan dari masing-masing cabang. Cabang iman yang paling tinggi tingkatannya dan yang paling utama ialah ucapan la ilaha illallah. Setelahnya, berturut-turut cabang iman yang tingkatan dan keutamannya ada dibawahnya hingga cabang yang paling bawah, yaitu menyingkirkan bahaya dari tengah jalan.

Cabang iman yang paling tinggi tingkatannya dan yang paling utama ialah ucapan la ilaha illallah

Di antara kedua tingkatan itu (paling atas dan paling bawah) terdapat amalan-amalan seperti shalat, zakat, puasa dan haji. Juga amalan-amalan hati seperti rasa malu, tawakal, rasa takut dan lain sebagainya yang kesemuanya juga disebut iman. Di antara cabang-cabang iman ini ada yang dapat menyebabkan iman hilang jika ia juga hilang, seperti ucapan dua kalimat syahadat. Ada juga yang tidak, seperti tidak menyingkirkan bahaya dari tengah jalan. Seberapa banyak cabang itu dilaksanakan, sebanyak itu pula iman akan bertambah dan berkurang.

Dalil keempat

Dalam hadist Muslim dijelaskan urusan cara mengubah kemunkaran dan bahwa mengubah kemungkaran termasuk bagian dari iman di mana beliau menafikan iman orang yang dalam dirinya tidak ada tingkatan paling rendah sekalipun dalam mengubah kemunkaran. Yaitu, mengubah kemunkaran dengan hati. Sebagaimana disebutkan dalam sebagian riwayat, “Setelah itu, tidak ada lagi keimanan (dalam hati) mesti hanya sebesar biji sawi.” Atas dasar ini, tingkatan di atasnya adalah tingkatan iman yang lebih kuat. Wallahu a’alam.

Kitab Tauhid Dr. Shalih Bin Fauzan Al-Fauzan