Seindah Pertolongan Allah Bagian Kedua

Kalaulah bukan karena pertolongan Allah, tentulah kita tidak akan dan dapat mengerjakan amal ketaatan. Karena kita inilah hamba-hamba yang syiarnya kalimat hauqolah: “Laa haula wa laa quwwata illa billah” Tidak ada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah.

An Nawawi Al Bantani rahimahullah menjelaskan makna dari kalimat hauqolah ini, “Tidaklah seorang hamba  terhindar dari maksiat melainkan karena Allah dan tiada kekuatan untuk mengerjakan amal ketaatan melainkan karena pertolongan Allah.” (Kasyifatus Saja’ Syarh Safinatun Naja, hal. 8)

Oleh karennya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wasiatkan kepada sahabat Muadz Bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, untuk rutin memohon pertolongan Allah agar bisa beribadah kepada-Nya. Nabi ajarkan kita sebuah doa: “Allahumma A’innii ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatika” (Ya Allah, Tolonglah aku untuk bisa berdzikir, bersyukur dan beribadah dengan baik kepada-Mu).

, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan bahwa setiap ibadah yang dilakukan merupakan bentuk pertolongan Allah ta’ala. Sebab tidak akan terlaksana suatu ibadah tanpa ada pertolongan dari-Nya. Lantas, sudah seberapa rutin kita memohon pertolongan Alla ta’ala…?

Antara Ibadah dan Pertolongan Allah

“Iyyaka N’budu wa Iyyaka Nasta’in” adalah ayang yang sering kita baca, namun ternyata menyimpan makna dan hikmah yang berlimpah. Ibnul Qayyim sampai menyusun buku setebal tiga jilid yang berjudul Madarijus Salikin, hanya untuk menjelaskan hikmah dan faedah yang terkandung didalamnya.

Dalam ayat ini, disandingkan dua kata, yakni “Na’budu” dan “Nasta’in” yang artinya: “Kami beribadah” dan “Kami memohon pertolongan”. Sejatinya, memohon pertolongan kepada Allah (isti’anah) merupakan diantara salah satu bentuk ibadah. Lalu kenapa disebutkan isti’anah disini secara khusus, setelah sebelumnya disebutkan kata ibadah secara umum?

Syaikh Abdurrahman As Sa’di menjelaskan, “Disebutkannya isti’anah (meminta pertolongan kepada Allah) setelah ibadah, yang padahal sebenarnya isti’anah merupakan bagian dari ibadah itu sendiri adalah menegaskan bahwa betapa butuhnya seorang hamba kepada pertolongan Allah ta’ala dalam setiap ibadah-ibadah mereka. Sebab bila Allah tidak menolongnya, maka tidak akan dapat terwujud suatu ibadah, yakni berupa melaksanakan perintah ataupun menjauhi larangan-Nya.” (Tafsir Karimir Rahman, hal. 37)

Baca Selanjutnya Bab III