Salah satu pokok akidah Islam adalah beriman (menyakini) adanya hal-hal ghaib. Bahkan, keyakinan ini merupakan sifat pertama yang disematkan Allah kepada orang-orang yang bertakwa, sebagaimana firman-NYA:

الم; ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ; الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

“Alif lam mim. Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanga; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman  kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (Al-Baqarah: 1-3)

Kerena itu, seorang muslim wajib mengimani hal yang ghaib dengan keimanan yang mantap, tanpa dicampuri keraguan dan kebimbangan sedikitpun.

Menurut Abdullah bin Mas’ud pengertian ghaib adalah sesuatu yang tidak bisa kita indera, dan Allah serta rasul-NYA telah memberitahukan perkara (ghaib) ini kepada kita.

Dalam hal ini jin merupakan salah satu makhluk ghaib yang harus kita yakini keberadaannya. Sebab, banyak sekali dalil menyatakan tentang hal ini, baik dari Al Qur’an maupun Al-Hadist.

Dalil dari Al-Qur’an:

وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا ; أَنْصِتُوا ۖ فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَىٰ قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ

“Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al-Qur’an , maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya).” Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.” (Al-Ahqaf: 29)

يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِي ; وَيُنْذِرُونَكُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَٰذَا ۚ قَالُوا شَهِدْنَا عَلَىٰ أَنْفُسِنَا ۖ وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ ; الدُّنْيَا وَشَهِدُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوا كَافِرِينَ

“Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayat-Ku dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini? Mereka berkata: “Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri”, kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir.” (Al-An’am: 130)

يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ ; وَالْأَرْضِ فَانْفُذُوا ۚ لَا تَنْفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ

“Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.” (Ar-Rahman: 33)

قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا

“Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan.” (Al-Jin: 1)

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (Al-Jin: 6)

Dalil dari Hadist:

Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya: Abdullah bin Masud bercerita, “Kami pernah bersama Rasulullah pada suatu malam, tiba-tiba kami kehilangan beliau. Maka, kami pun bergegas mencari beliau di bukit, lembah dan pegunungan. Kami berkata, ‘Apakah beliau diculik atau dibunuh?’. Sehingga malam itu pun menjadi malam terburuk yang pernah kami lalui dalam kehidapan kami. Pada pagi harinya, tiba-tiba beliau datang dari arah gua Hira. Maka kami berkata, ‘Wahai Rasulullah, kami kehilangan engkau, lalu kamu bergegas mencari-cari baginda, tetapi kami tidak menemukan engkau, malam tadi merupakan malam terburuk yang pernah kami lalui.’ Beliau bersabda, ‘Aku didatangi oleh seorang juru dakwah dari bangsa jin, lalu aku pun berangkat bersamanya untuk membacakan Al-Qur’an kepada teman-temannya.

Ibnu Mas’ud melanjutkan ceritanya, ‘Lalu Nabi mengajak kamu untuk memperlihatkan bekas-bekas yang ditinggalkan mereka dan bekas cahaya mereka. Jin-jin tersebut juga menanyakan kepada Rasulullah makanan apa yang harus mereka makan. Maka beliau bersabda, ‘Makanan kalian adalah tulang binatang yang kalian temukan dan ketika menyembelihnya disebutkan nama Allah, dan itu merupakan makan yang paling banyak dagingnya, serta kotoran binatang.’ Kemudian Rasulullah bersabda, ‘Janganlah kamu istinja’ (cebok) dengan kedua benda ini, karena keduanya adalah makanan pokok bagi saudara-saudaramu (bangsa jin)’.

(HR. Muslim: 4/170-Syarh Nawawi)

Dari Abu Said Al-Khudri, dia berkata, “Rasulullah pernah bersabda kepadaku: ‘Aku perhatikan kamu sangat menyukai kambing dan menggembalakannya ke lembah. Jika kamu berada di suatu lembah bersama kambingmu, lalu kamu ingin mengumandangkan suara adzan untuk shalat, keraskanlah suaramu. Karena setiap jin, manusia dan apa saja yang mendengar suara muadzin yang mengumandangkan adzan, kelak akan menjadi saksi baginya pada hari kiamat.”

(HR. Muslim: 6/343-Fathul Bari 1/68, Nasa;i 2/12 dan Ibnu Majah: 1/239)

Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam kedua kitab Shahihnya. Abdullah bin Abbas, berkata, “Pada suatu hari Rasulullah bersama serombongan sahabat pergi menuju pasar Ukazh. Ketika itu, setan-setan merasa terhalang (tidak bisa) untuk mendengarkan berita dari langit (yang menjadi kebiasaannya), dan mereka juga dilempari bintang-bintang. Akhirnya para setan itu kembali kepada kaum mereka. Maka kaum mereka bertanya, “Ada apa dengan kalian?”

Mereka menjawab, “Sesungguhnya kita terhalang untuk mendapatkan berita langit dan bintang-bintang juga dilemparkan ke arah kita.” Mereka berkata, “Berita langit tidak mungkin terhalang dari kalian, kecuali ada sesuatu yang terjadi. Oleh karena itu, berpencarlah kalian menuju penjuru timur dan barat, lalu carilah apa sebenarnya yang membuat berita langit tidak bisa kalian dengar!’ Maka, sekelompok setan yang pergi ke arah Tihamah, mendapati Rasulullah yang hendak berangkat menuju pasar Ukadz sedang beristirahat di Nakhlah (nama sebuat tempat). Saat itu beliau bersama para sahabatnya sedang melaksanakan shalat Shubuh.

Ketika mereka mendengar bacaan Al-Qur’an Rasulullah, mereka pun menyimaknya dengan seksama. Lalu di antara mereka berkata kepada yang lain. “Demi Allah, inilah yang menghalangi kalian untuk mendengarkan berita langit.” Maka ketika kembali lagi kepada kaum mereka, mereka berkata, “Wahai kaum kami, sesungguhnya kamu telah mendengarkan bacaan Al-Qur’an yang sangat menakjubkan. Ia menunjukkan kepada jalan kebenaran, maka kami pun beriman kepadanya. Dan kami tidak akan menyekutukan Rabb kami dengan sesuatu apapun. Kemudian Allah menurunkan firman-Nya:

قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا

“Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan.” (Al-Jin: 1)

Yang diwahyukan kepada Rasulullah ini adalah perkataan jin. Sedangkan dalil-dalil yang menunjukkan keberadaan mereka masih banyak.