Firman Allah Ta’ala dalam QS. Fussilat: 34 sebagai berikut,

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ
وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.”

Dalam perspektif ajaran agama Islam, kebaikan itu merupakan akhlak dan moral yang baik. Sebagaimana dijelaskan didalam hadist shahih, bahwasannya Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Kebaikan adalah akhlak yang baik, sedangkan dosa adalah apa saya yang meragukan jiwamu dan kamu tidak suka memperlihatkannya pada orang lain.” (HR. Muslim)

Mengenai konteks kebaikan ini, Allah Ta’ala telah berfirman dalam QS. Ar-Rahman: 60 sebagai berikut,

هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).”

Ayat tersebut menegaskan bahwa Allah Ta’ala pasti akan membalas amal kebaikan manusia dengan anugerah ilahi yang berupa kebaikan pula di akhirat kelak. Sementara itu, para ulama-ulama besar telah menetapkan satu rumus yaitu, “jika satu kata yang berbentuk isim makfirat diulang dua kali dalam satu kalimat, maka ia memilikki makna dalam satu kalimat, maka ia memilikki makna yang sama, tetapi jika satu kata yang berbentuk isim nakiroh yang diulang dua kalo dalam satu kalimat, maka makna kata yang kedua berbeda dengan kata yang pertama.”

Namun kata kebaikan disini menyalahi rumus tersebut. Meskipun kata tersebut dalam bentuk makrifat, namun maknanya berbeda. Kata yang pertama bermakna perbuatan baik, sedang kata yang kedua bermakna anugerah yang baik di surga. Beberapa hal yang dapat kita lakukan dalam membalas kejahatan dengan hal kebaikan.

Pertama

Jika seseorang melakukan keburukan terhadap Anda, terlebih khusus lagi jika mereka adalah kerabat-kerabat Anda, sahabat-sahabat Anda, mereka berbuat buruk kepada Anda, baik melalui lisan mereka maupun melalui perbuatan mereka, maka balaslah mereka dengan kebaikan,. Karena membalah kejahatan dengan kebaikan itu akan berakhir dengan kebaikan pula. Sebagaimana firman Allah Ta’ala yang berbunyi,

هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (QS. Ar-Rahman: 60)

Kedua

Jika mereka memutus silahturohmi denganmu, maka sambunglah kembali silahturohmi itu. Karena orang yang menyambung tali silahturohmi yang telah terputus, maka Allah Ta’ala akan memberikan baginya surga dan dijauhkan dari neraka. Hal ini sesuai dengan hadist Rasulullah saw, bahwasannya ada seorang sahabat Rasulullah saw yang menanyakan, “Wahai Rasulullah saw tunjukilah amalan apa yang dapat memasukkan aku ke surga dan menjauhkan dari neraka.” Nabi Muhammad saw menjawab: “Apabila engkau menyembah Allah, mendirikan shalat, membayar zakat dan melakukan silahturrahim”. (HR. Muttafaqun ‘Alaihi)

Ketiga

Jika mereka menjelek-jelekanmu di belakang maupun di hadapanmu, maka jangan engkau jelek-jelekkan mereka kembali, bahkan jika bisa maafkanlah mereka dan balaslah mereka dengan perkataan yang lembut. Orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain, maka ia akan disukai oleh Allah Ta’ala. Karena Allah Ta’ala menyukai kepada orang yang berbuat kebaikan. Hal ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala yang bunyinya demikian,

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ

وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali-Imran: 134)

Sumber: Risalah Jum’at Edisi 43/XXVII