Tatkala Allah telah menciptakan Adam, Dia memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Adam. Maka, seluruh malaikat bersujud, karena Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At-Tahrim: 6)

Akan tetapi, di sana ada makhluk Allah yang mau beribadah kepada-Nya, namun bukan dari jenis mereka. Sebab, mereka diciptakan dari cahaya sedangkan makhluk ini (setan) diciptakan dari api. Maka, ketika ujian diselenggarakan, setan mengkhianati Allah. Dia enggan bersujud kepada Adam karena bedalih bahwa dirinya lebih mulia daripada Adam. Dia membandingkan asal-usul penciptaan, sementara dia tidak memperhatikan siapa yang memberikan perintah?

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. (QS. Al-A’raf: 12)

Yang mengherankan, setelah itu iblis masih mengakui bahwa Dzat yang menciptakannya adalah Allah, dia juga menyatakan bahwa Dzat yang Maha mematikan dan menghidupkan adalah Allah, yaitu ketika iblis berkata:

قَالَ أَنْظِرْنِي إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

Iblis menjawab: “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan”. (QS. Al-A’raf: 14)

Tapi, apakah ilmu dapat bermanfaat jika tidak diamalkan? Sekali-kali tidak! Bahkan, kondisi ini akan menjadi malampeta besar bagi pemiliknya dan menjadi beban berat kelak di hari kiamat. Dalam kondisi inilah, Allah menetapkan pengusiran dan laknat kepada iblis. Allah berfirman:

وَإِنَّ عَلَيْكَ اللَّعْنَةَ إِلَىٰ يَوْمِ الدِّينِ قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ

Allah berfirman: “Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk, dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat”. (QS. Al-hijr: 34-35)

Dari sinilah, permusuhan antara Adam dengan Iblis betul-betul mengakar kuat dan mendarah daging. Sehingga, dia senatiasa berfikir untuk menuntut balas agar dirinya terhibur.