Perlu digarisbawahi bahwa dari sudut pandang studi Al Qur’an, kewajiban mempercayai adanya takdir tidak secara otomatismenyatakannya sebagai satu diantara rukun iman yang ke enam. Al Qur’an tidak menggunakan istilah “rukun” untuk takdir, bahkan tidak juga Rasulullah dalam hadist-hadist beliau. Memang, dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh banyak pakar hadist, melalui sahabat Nabi Uman ibn Al Khathtahb, dinyatakan bahwa suatu ketika datang seseorang yang berpakaian sangat putih, berambut hitam teratur, tetapi tidak tampak pada penampilannya bahwa ia seorang pendatang, namun “tidak seorang pun di antara kami mengenalnya.”

Demikian Umar ra, Dia bertanya tentang Islam, Iman dan saat kiatmat serta tanda-tandanya. Nabi menjawab antara lain dengan menyebut enam perkara iman, yakni percaya kepada Allah, melaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, hari kemudian dan “percaya tentang takdir-Nya yang baik dan yang buruk.” Setelah sang penanya pergi, Nabi menjelaskan bahwa, “Dia itu Jibril, datang untuk mengajar kamu, agama kamu.” Dari hadist ini, banyak ulama merumuskan enam rukun Iman tersebut.

Seperti dikemukan di atas, Al-Qur’an tidak menggunakan kata rukun, bahkan Al-Qur’an tidak pernah menyebut kata takdir dalam satu rangkaian ayat yang berbicara tentang kelima perkara lain di atas. Perhatikan firman-Nya dalam surat Al-Baqarah ayat 285

“Rasul percaya tentang apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian juga orang-orang Mukmin. Semuanya percaya kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya dan hari kemudian.” Dalam QS. An-Nusa ayat 136 disebutkan:

“Wahai orang-orang yang beriman, (tetaplah) percaya kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang diturunkan kepada Rasul-nya dan kitab disusunkan sebelum (Al-Quran). Barangsiapa yang tidak percaya kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya dan hari kemudian, maka sesungguhnya dia telah sesat sejauh-jauhnya.”

Bahwa kedua ayat di atas tidak menyebutkan perkara takdir, bukan berarti bahwa takdir tidak wajib dipercayai. Tidak! Yang ingin dikemukankan ialah bahwa Al-Quran tidak menyebutkan sebagai rukun, tidak pula merangkaikannya dengan kelima perkara lain yang disebut dalam hadist Jibril di atas.

Kerena itu, agaknya dapat dimengerti ketika sementara ulama tidak menjadikan takdir sebagai salah satu rukun iman, bahkan dapat dimengerti jika sementara mereka hanya menyebut tiga hal pokok, yaitu keimanan kepada Allah, malaikat dan hari kemudian. Bagi penganut pendapat ini, keimanan tentang apa yang mereka sampaikan (wahyullahi), dan kepada siapa disampaikan, yakni para Nabi dan Rasul. Bahkan jika kita memperhatikan beberapa hadist Nabi, seringkali beliau hanya menyebut dua perkara, yaitu percaya kepada Allah dan hari kemudian.

“Siapa yang percaya kepada Allah dan hari kemudian, maka hendaklah ia menghormati tamunya. Siapa yang percaya kepada Allah dan hari kemudian, maka hendaklah ia menyambung tali kerabatnya. Siapa yang peraya kepada Allah dan hari kemudian, maka hendaklah ia berkata benar atau diam.” Demikian salah satu sabdanya yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim melalui Abu Hurairah. Al-Quran juga tidak jarang hanya menyebut dua di antara hal-hal yang wajib dipercayai. Perhatikan dalam QS. Al-Baqarah ayat 62.

Sesungguhnya orang-orang mu’min orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

Ayat ini tidak berarti bahwa yang dituntut dari semua kelompok yang disebut di atas hanyalah iman kepada Allah dan hari kemudian, tetapi bersama keduanya adalah iman kepada Rasul, kitab suci, malaikat dan takdir. Bahkan ayat tersebut dan semacamnya hanya menyebut dua hal pokok, tetapi tetap menuntut keimanan menyangkut segala sesuatu yang disampaikan oleh Rasulullah baik dalam enam perkara yang disebut oleh hadist Jibril di atas, maupun perkara lainnya yang tidak disebutkan. Demikianlah pengertian takdir dalah bahasa dan penggunaan Al-Quran.

Sumber: Risalah Jum’at Edisi 3/XXVIII 18 Muharram 1440 H