Apakah Kita Termasuk Yang Allah Kehendaki?

Allah ta’ala berfirman,

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya dan Allah lebih mengtahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qashash: 56)

Allah hanya memberi hidayah (taufik) kepada orang yang dia kehendaki saja dan Allah lebih tau siapakah yang layak untuk diberikan pertolongan oleh Allah ta’ala. Hamba yang dimudahkan untun beribadah kepada-Nya, hanyalah hamba-hamba yang Dia kehendaki saja.

Berbicara tentang kehendak Allah (masyiatullah), Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah seringkali menyebutkan sebuah kaedah di dalam beberapa kitabnya. Beliau menuturkan, “Sesungguhnya kehendak Allah itu  bertautan dengan hikmah.” Artinya, apa-apa saja yang Allah kehendaki, maka semua itu berdasarkan hikmah Allah ta’ala, bukannya tak beralasan.

Tersimpulkan bahwa orang-orang yang semangat dalam beribadah adalah insan-insan pilihan, yang dikehendaki oleh Allah yang diberikan pertolongan agar dapat melakukan amal ketaatan.

Adakah kita termasuk yang dikehendaki? Kalau belum, sudah selayaknya kita mencari kunci agar pintu-pintu kebaikan itu segera terbukan.

Perbanyaklah Memohon dan Meminta

Seseorang bisa mengerjakan ibadah karena telah diberikan taufik berupa pertolongan dari Allah. Sebagaimana pula diceritakan dalam Al Qur’an, Nabi Syu’aib ‘alaihissalam menuturkan,

قَالَ يَا قَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كُنْتُ عَلَىٰ بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي وَرَزَقَنِي مِنْهُ رِزْقًا حَسَنًا ۚ وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَىٰ مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ ۚ إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا  اسْتَطَعْتُ ۚ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ ۚ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ
“Syu'aib berkata: "Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan dianugerahi-Nya aku dari pada-Nya rezeki yang baik (patutkah aku menyalahi perintah-Nya)? Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (QS. Hud: 88).

Ibnul Qayyim mengungkapkan, “Jika terdapat segala macam kebaikan, maka itu semua berasal dari taufik Allah bagi hamba-Nya. Dan, taufik itu kuasanya di tangan Allah bukan di tangan hamba. Kunci untuk mendapatkan taufik tersebut ialah doa, merasa butuh, tulus memohon, dan juga benar-benar berharap menginginkan taufk tersebut. Tatkala seorang diberikan kunci-kunci ini, maka sungguh Allah menghendaki terbukanya pintu kebaikan baginya. Namun sebaliknya, tatkala seorang hamba tidak mendapatkan kunci-kunci ini, maka pintu-pintu kebaikan itu telah tertutup baginya.” (Al Fawaid, hal. 130).