Memang bukan perkara yang mudah untuk menahan marah dengan tetap berbuat ramah. Apalagi kemudian membalasnya dengan hal yang sebaliknya. Tidak semua orang yang mampu melakukannya, kecuali yang diberi kesabaran dan anugerah kebaikan.

Itu pulalah yang menjadi salah satu hikmah disyariatkannya puasa, nilai pengendalian diri. Seperti yang disebutkan di dalam sebuah hadist yang dirawikan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu tentang keutamaan puasa, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan dalam sebuat hadist yang dirawikan oleh Imam Bukhari radhiyallahu ‘anhu yang berbunyi demikian,

“Jika ada seseorang yang mencaci dan mengajak bertengkar, maka katakanlah. “Saya sedang berpuasa. Saya sedang berpuasa. Saya sedang berpuasa”. (HR. Bukhari)

Mulut yang senantiasa mengucapkan kata-kata baik bukan kata-kata kotor, kata-kata menyejukkan bukan yang menyakiti, kata-kata yang menenangkan bukan yang menggelisahkan dan lain sebagainya. Jika semua ini diucapkan dan dipraktikan dalam kehidapan sehari-hari, maka akan terasa indah. Sebagaimana yang telah dilukiskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kitab-Nya sebagai berikut,

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ  وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushilat: 34-35)

Sehubungan dengan surat Fushilat ayat 34-35 diatas, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu menuturkan, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada orang beriman untuk bersabar ketika ada yang membuat marah. Membalas dengan kebaikan jika ada yang berbuat jahil dan mengampuni jika ada yang berbuat salah. Jika setiap hamba melakukan semua itu, maka Tuhan akan melindunginya dari godaan syaitan dan akan menundukkan musuh-musuhnya.

Ibnu Katsir juga mengatakan, “Namun yang mampu melakukan seperti itu ialah orang yang memilikki kesabaran. Karena membalas orang yang menyakiti kita dengan kebaikan adalah suatu yang berat bagi setiap jiwa”. Begitulah ayat tersebut berkaitan dnegan akhlak seorang muslim yang harus  menghiasi dirinya dengan berbagai sifat mahmudah (sifat terpuj).

Sumber: Risalah Jum’at Edisi 43/XXVII